Kisah Seorang Salesman

Posted on

Sore itu sepulang kantor aku melihat seorang sales sedang berjalan dengan membawa barang dagangan yang banyak sekali. Ada sebuah tas besar yang bergantung di pundaknya, sementara kedua tangannya membawa contoh barang dagangannya. Melihat penampilannya, pakai hem lengan panjang dan berdasi… sambil membawa barang sebanyak itu pasti akan terasa gerah sekali. Apalagi cuaca sedang sangat panas seperti saat itu.

Kulihat rona kelelahan tampak di wajahnya. Terpikir olehku, sudah berapa lama dia berjalan menawarkan dagangan. Sudah berapa jauh jarak ditempuhnya dalam sehari itu. Pasti sangat melelahkan berjalan jauh, di tengah teriknya matahari sambil membawa barang sekian banyaknya. Saat kulihat tas yang tergantung di pundaknya, sepertinya masih sangat berat. Mungkin belum banyak barang yang belum mampu dijualnya pada hari itu.


Aku jadi teringat dengan saudaraku. Dulu dia pernah bekerja di suatu kantor yang memasarkan produk-produk tertentu melalui sales seperti itu. Saudaraku bekerja sebagai tenaga administrasi yang mengurusi kurang lebih 20 orang sales. Setiap hari para sales itu harus berkeliling dengan membawa aneka jenis dagangan milik kantor itu.

Para sales itu berangkat “bekerja” tanpa dibekali uang oleh kantor / agennya. Jika mereka ingin menjual barang-barangnya ke daerah lain, maka dia harus merogoh kantongnya sendiri terlebih dulu. Begitu juga bila dia ingin membeli makan, maka semuanya harus dibayarnya dengan uangnya sendiri. Setelah dia berhasil menjual barang…, barulah uang untuk transport dan makan itu dapat diganti. Itupun dengan catatan, pendapatannya hari itu lebih besar daripada pengeluarannya untuk transport dan makan.

Lihat juga :  Celoteh ...

Kebetulan sistem yang diberlakukan di kantor saudaraku seperti ini : para sales diberi tahu jumlah uang yang harus disetor untuk setiap barang yang terjual. Sales diberi kebebasan untuk menentukan harga jualnya sendiri. Selisih antara harga jual dan harga yang ditetapkan oleh kantor itulah pendapatan dari salesnya. Meskipun para sales bebas menentukan harga, biasanya mereka tak berani mematok harga yang jauh lebih tinggi daripada harga yang ditentukan kantor, karena pasti tak akan ada yang mau membelinya, karena terlalu mahal. Sementara jika dia menjual dengan selisih harga sedikit dari harga yang ditetapkan kantor, maka tak banyak uang yang akan diperolehnya hari itu.

Dengan sistem seperti itu, bisa juga seorang sales yang tidak pandai menjual.. tak mendapatkan penghasilan sama sekali dalam sehari itu. Padahal bisa saja sales itu sebelumnya sudah mengeluarkan uang untuk ongkos transport menuju daerah tempat dia ingin menawarkan dagangannya. Dan yang pasti sales-sales itu sudah mengeluarkan uang untuk biaya makan dalam sehari itu. Jadi, adalah hal biasa jika seorang sales dalam sehari itu tak mendapatkan penghasilan.. tapi justru malah “nombok”.

Lihat juga :  5 Alasan Utama Kenapa Karyawan Membenci Pimpinannya ...

Beratnya kerja sales seperti itu menyebabkan banyak sales yang tak bertahan lama menjadi sales. Itu sebabnya, kantor saudaraku bisa dipastikan setiap bulan membuka lowongan pekerjaan di koran. Dalam setiap kali rekrutmen, kantor itu bisa mendapatkan 10-15 sales baru. Tapi selalu saja, sebagian besar dari mereka memilih mengundurkan diri meskipun baru menjalani kehidupan sebagai sales beberapa hari saja.

Ingatan itu membuatku memandang dengan kagum pada sales yang sedang berjalan siang itu. Betapa gigihnya dia berusaha untuk mencari penghasilan. Meski berjalan jauh dan lama.., dia tetap memiliki harapan akan mendapatkan penghasilan -berapaun itu- yang dapat dibawanya pulang. Namun bagaimana jika ternyata pada hari itu tak ada satupun barang yang berhasil dijualnya ? Jika dia sudah tak memiliki uang sama sekali, lantas “modal” apa yang akan dipakainya untuk kembali menjajakan barang berkeliling ?

Aku salut dengan jalan yang dipilihnya, meskipun berat tetap dijalaninya. Mereka yang tetap teguh menekuni pekerjaan itu, pasti memiliki keyakinan yang sangat besar bahwa Allah pasti memberikan rizki-Nya kepada umatnya. Sementara di sisi lain, tak sedikit orang sudah mulai putus asa dan mencoba mencari uang dengan cara yang lebih cepat dan mudah. Seperti mencopet, mencuri dan sebagainya.

Lihat juga :  Good Bye All ... All The Best For Us ...

Betapa kerasnya usaha mereka untuk hidup. Belum lagi jika usahanya menjual barang disambut dingin, bahkan sinis, oleh orang-orang yang ditawarinya. Bahkan tak sedikit yang dengan kasar menolak kehadiran seorang sales. Aku tak menutup mata atas anggapan negatif sebagian masyarakat terhadap sales. Aku sendiri menyadari, di saat lapangan pekerjaan sulit didapat seperti sekarang ini, maka pekerjaan apa saja asal halal seringkali menjadi pilihan. Dan… sales adalah salah satunya.

Semua pekerjaan adalah mulia… selama dijalankan dengan kesungguhan hati dan jujur. Sepakat kawan..?